Apa yang kita rasakan ketika bahagia ? Ketika doa kita terkabul? Ketika impian menjadi kenyataan? ketika sesuatu yang kita kira tidak akan mampu kita sentuh, kini kita miliki. Ketika harapan telah berwujud dan tinggal kita nikmati. Apa yang kita rasakan ketika bahagia ?
Bahagia memang sangat relatif. Seorang balita mengaku sangat senang ketika sebiji permen diberikan ibunya setelah mendengarnya menyanyi. Seorang perempuan dewasa mengaku sangat bahagia menemukan setangkai mawar merah segar di depan pintu kamarnya dengan kartu merah jambu bertuliskan nama seorang pria yang semalam dimimpikannya. Tepatkah kita mengatakan jika balita tersebut lebih rasional memaknai bahagia daripada si perempuan dewasa hanya karena permen lebih bisa dinikmati daripada setangkai mawar ?
Seorang tukang becak memandang dalam dengan ludah tertahan, dihadapannya berhenti sebuah mobil dengan cat berkilau. Di dalamnya duduk seorang pria berdasi yang tampak sibuk berbicara dengan telepon genggamnya. Beberapa menit kemudian, ganti si pria berdasi memandang takjub bapak tukang becak yang dengan nyamannya menekuk tubuh di bangku becaknya yang keras. Dengkurannya menggoda si pria berdasi yang beberapa hari sulit tidur karena memikirkan hutang bisnisnya.
Bolehlah kita sedikit berandai-andai. Andai saja si pria berdasi mencoba turun dan menghampiri bapak tukang becak, tersenyum dan memperkenalkan dirinya lalu dengan antusias mengajaknya masuk mobil untuk menikmati duduk dan tidur di kursi empuknya dengan buaian AC. Andai saja si pria berdasi mengeluhkan kesulitannya tidur, lalu si tukang becak menawarinya tidur di becaknya yang keras tanpa aroma hutang bisnis yang melilit, tanpa sekat sempit seperti di dalam mobil yang menghimpit, tanpa aturan normatif yang beralibi menyelamatkan citra pengusaha pelit.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Barangsiapa melepaskan salah satu kesusahan dunia dari seseorang mukmin, maka Allah akan melepaskan salah satu kesusahan hari kiamat darinya" (HR Muslim).
Tidak sedikit orang mengaku sulit memaknai bahagia, lebih tidak sedikit lagi orang yang mengaku tidak bahagia. Seolah-olah hanya dirinya di dunia ini yang hidupnya dihimpit derita dan nestapa. Lebih parah lagi karena merasa tidak seorangpun di dunia ini yang mau membantunya.
Ya....itulah titik terangnya, orang yang belum merasa bahagia, seringkali tidak lagi mengharap terpenuhinya harapannya, tapi dalam keadaan sempit itulah ia berharap ada yang memberinya kelapangan, dalam keadaan tertekan itulah ia berharap ada yang memberinya keleluasaan, dalam keadaan belum bahagia itulah ia memerlukan orang yang mau berbagi kebahagiaan. Masalahnya, tidak banyak orang yang bahagia dan mau berbagi bahagia.
Kepompong selalu bersabar dan bertahan dalam derita fisik dan kesendirian dalam proses metamorfosisnya. Kebahagiaan besar kepompong adalah ketika dirinya sempurna menjadi kupu-kupu. Ia tidak lagi sakit dan dijauhi makhluk lain, tapi kini menjadi idola dan kekaguman banyak makhluk lain yang terpesona oleh keindahannya.
Tapi kupu-kupu tidak lengah oleh pesonanya. Kupu-kupu tidak terbuai dalam kebahagiaannya. Seketika ia terbang untuk berbagi bahagia dengan hinggap di pucuk-pucuk bunga yang tengah menantinya. Kupu-kupu membantu bunga-bunga, mengantar serbuk sari pada putik bunga lain. Bunga-bunga pun tersenyum bahagia.
Demikianlah kupu-kupu terus terbang dan melakukan kerja cintanya. Berbagi bahagia sampai hinggap di tangan gadis kecil yang dengan lembut membelainya atau terhempas di dinding kaca bening lalu jatuh tak berdaya.
Berbagi bukan hanya banyak diajarkan alam dan karenanya menjadi alasan sulitnya bagi kita untuk menemukan dan melaksanakan. Rasulullah SAW manusia paling dermawan pun acapkali mengajarkan dan mencontohkan. Rasulullah SAW menegaskan tidak ada yang dimiliki seorang muslim yang tidak layak dibagikan. Jika tidak memiliki sesuatu untuk dibagikan, hendaknya ia berbagi dengan memberikan manfaat dan kebaikan pada orang lain. (HR Muslim). Atau minimal berbagi bahagia lewat senyuman.
Jika saja perut kita kosong kelaparan, tentu sidikit makanan dari orang yang dengan bahagianya berbagi pada kita, adalah sebuah nikmat yang sangat kita harapkan. Jika kemudian datang seorang yang bernasib sama dengan kita dan mengharap kita berbagi makanan yang sedikit itu, maka semakin sedikit makanan yang kita makan. Namun kita justru akan merasa lebih merasa kenyang daripada jika makanan itu kita makan sendiri tanpa kita mau berbagi. Demikian Al Uswah Muhammad Rasulullah mengajarkan.
Memang berbahagia bukan hal yang mudah. Karena seringkali kebahagiaan itu didapat dengan perjuangan yang sama tidak mudahnya. Bahkan seringkali kebahagiaan itu harus kita dapatkan dengan mengorbankan apa yang kita sayangi.
Seorang gadis kecil dalam keluarga yang kurang beruntung setiap saat berdoa agar Allah memberinya seorang teman yang dapat berperan sekaligus menjadi kakak dan orang tua yang didambakannya. Jauh sebelum baligh, gadis itu berdoa dan terus berdoa. Hingga Allah mempertemukannya dengan teman sebagaimana doanya dalam masa kuliahnya. Teman itu adalah teman kerjanya. Sang gadis mengaku itulah kebahagiaan terbesarnya saat itu.
Sang gadis begitu mencintai temannya dan menyebutnya sebagai kado doanya puluhan tahun lalu. Sang gadis lupa bahwa Allah tentu tidak begitu saja memberikan kebahagiaan tanpa menguji imannya. Begitu banyak orang yang menyukai temannya. Beberapa bahkan menyayanginya sama seperti sang gadis menyayangi teman itu.
Sang gadis tidak rela. Ia enggan berbagi. Ia merasa terlampau lama berjuang dalam doa dan pengharapan yang tak kunjung surut demi datangnya teman yang diharapkannya. Ia telah merasa sehati dan sejiwa dengan teman yang telah dianggapnya sebagai saudaranya. Tapi sang gadis masih enggan berbagi. Ia ingin temannya hanya jadi miliknya. Ia mengaku terlampau sering kehilangan. Dan ia tidak mau terjadi lagi. Terlebih kehilangan teman yang sejak kecil diharapkannya.
Allah berkata lain. Sang gadis menikah dan harus berpisah dengan temannya. Meski keduanya masih sangat mungkin untuk sering berjumpa. Kini sang gadis bukan merelakan berbagi temannya, tapi juga kebahagiaan yang ia perjuangkan di masa gadisnya, ia bagikan kini pada suaminya. Keduanya kini berbahagia berbagi bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar