Alfaqieh Abul-Laits berkata :" Telah menerangkan kepada kami Muhammad bin Alfadhel bin Ahnaf berkata : Telah menerangkan kepada kami Muhammad bin Ja'far Alkaraabisi ia berkata : Telah menerangkan kepada kami Ibrahim bin Yusuf, ia berkata : Telah menerangkan kepada kami Ismail bin Ja'far, dari Amir Maula Almuththalib dari Ashim dan Muhammad bin Labied berkata : Nabi SAW bersabda yang artinya :
Yang Sangat aku khawatirkan atas kamu adalah syirik yang terkecil. Sahabat bertanya : "Ya Rasulullah apakah syirik yang kecil itu? jawabnya : Riya'. Pada hari pembalasan kelak, Allah berkata kepada mereka (yang riya') : Pergilah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal karena mereka di dunia, lihatlah di sana kalau-kalau kamu mendapatkan kebaikan dari mereka.
Riya' ialah beramal agar dipuji dan dilihat orang, Abul-Laits berkata : Dikatakan kepada mereka sedemikian itu, karena amal perbuatan mereka saat berada di dunia menggunakan tipu-muslihat, maka demikian pula balasan terhadap mereka.
Firman Allah : Yukhaadi'unallah Wa huwa Khaa di'uhum.
Allah membalas cara tipuan mereka itu dan membatalkan semua amal perbuatan mereka. Karena kamu dahulu tidak beramal untukKu, maka pembalasan amalmu itu tidak ada padaKu, sebab tiap amal yang tidak berdasarkan rasa ikhlas kepada Allah, maka (amal itu) tidak akan sampai kepadaNya, oleh karena itu, tiap amal yang dikerjakan tidak karena Allah tapi karena sebab-sebab selainNya, maka Allah berlepas tangan darinya.
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata : dari Nabi SAW bersabda :
Allah telah berfirman (yang artinya) :
Akulah yang terkaya dari semua sekutu, Aku tidak berhajat kepada amal yang dipersekutukan yang lain-lain, maka siapa beramal lalu mempersekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku terlepas dari amal itu.
Hadist ini digunakan sebagai dalil bahwa Allah tidak menerima amal, kecuali yang didasarkan pada ikhlas semata kepadaNya, jika tidak ikhlas, tidak diterima, dan tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya tetap dalam neraka jahannam, sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat al-israa' :
Man kana yuridul aa-jilata ajjalna lahu fiha maa nasyaa'u nuridu, tsumma ja'alna lahu jahannam yashlaaha madzmuman madkhura (18). Wa man aradal akhirota wa sa'a lahu sa'yaha wa huwa mu'minun, fa ulaaika kaana sa'yuhum masykuura (19).
Siapa yang menginginkan dunia dengan amalnya, Kami berikan kepadanya dari kekayaan dunia bagi siapa yang Kami kehendaki kebinasaannya, kemudian Kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam sebagai orang yang terhina dan terusir, jauh dari rahmat Allah (18). Dan siapa yang menginginkan akhirar dan berusaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, dan disertai iman, maka usaha amal mereka itulah yang terpuji (diterima). (19).
Kullan numiddu haa ulaai, wa haa ulaai min athaai rabbika, wama kaana athaau rabbika mah-dzuura. (20)
Masing-masing dari dua golongan Kami beri rizqi, dan pemberian Tuhanmu tidak terhalang, baik terhadap mukmin, kafir, berbakti maupun lacur. (20).
Dari keterangan ayat ini, nyatalah bahwa yang beramal karena Allah, maka akan diterima amalnya sedang yang beramal tidak karena Allah, tidak akan diterima dan hanya mendapat lelah dan susah semata, sebagaimana dinyatakan dalam hadist : Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi SAW bersabda :
Rubba shaaimin laisa lahu khadhthun min shaumihi illal ju'a wal ju'a wal athasy, wa rubba qaaimin laisa lahu khadhthun min qiyamihi illal sahar wannashabu.
Artinya : Adakalanya orang yang berpuasa itu tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, dan adakalanya orang yang bangun malam itu tidak mendapat apa-apa dari bangunnya kecuali tidak tidur semata-mata, yakni tidak mendapat pahala dari amalnya.
Seorang ahli hikmah berkata : contoh orang yang beramal karena riya' atau sum'ah itu bagaikan seorang yang keluar ke pasar dan mengisi kantong uangnya dengan batu, sehingga orang-orang yang melihat kantongnya, semua merasa kagum dan berkata : Alangkah penuhnya kantong uang orang itu, tetapi sama sekali tidak berguna baginya, sebab tidak dapat dibelikan apa-apa, hanya semata-mata mendapat pujian orang banyak. Demikian pula dengan orang yang beramal karena riya' atau sum'ah, tidak ada pahalanya di akhirat.
Wa qadimna ilaa ma 'amilu min faja'alnahu habaa'an mantsuura.
Dan Kami periksa semua amal perbuatan mereka, lalu Kami jadikan debu yang berhamburan.
Waki' meriwayatkan dari Sufyan Atstsauri dari orang yang mendengar Mujahid berkata : Seorang datang kepada Nabi SAW dan berkata : Ya Rasulullah, saya bersedekah mengharap ridha Allah dan ingin juga disebut dengan baik.
Maka turunlah Q.S Alkahfi ayat 111 :
Faman kaana yarju liqaa'a rabbihi fal ya'mal amalan shaliha, walaa yusyrik bi ibadati rabbihi ahada.
Artinya : maka siapa yang benar-benar mengharap akan bertemu dengan Tuhannya, maka hendaknya berbuat amal baik, dan jangan mempersekutukan Allah dalam semua ibadatnya dengan siapapun. (Alkahfi 111).
Seorang Pujangga berkata : Siapa yang melakukan tujuh (hal) tanpa tujuh (hal yang lain), maka tidak berguna perbuatannya. Siapa yang takut tanpa hati-hati, maka tidak berguna takut itu, seperti berkata : Saya takut siksa Allah tetapi tidak hati-hati dari dosa, maka tidak berguna takutnya itu. Siapa yang mengharap tanpa amal, seperti mengharap pahala dari Allah tetapi tidak beramal, maka tidak berguna harapannya. Siapa yang berniat tanpa pelaksanaan, niat akan berbuat kebaikan tetapi tidak dilaksanakan akan tidak berguna niatnya. Siapa berdoa tanpa usaha, seperti berdoa semoga mendapat taufiq untuk kebaikan, tetapi tidak berusaha untuk kebaikan. Siapa yang beristighfar tanpa menyesal, maka tidak akan berguna istighfarnya. Siapa yang tidak menyesuaikan lahir dengan bathinnya, seperti lahirnya berbuat kebaikan tetapi hatinya tidak ikhlas. Siapa yang beramal tanpa ikhlas, maka tidak akan berguna amal perbuatannya.
Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi SAW bersabda :
Akan muncul pada akhir zaman, suatu kaum (golongan) yang mencari dunia dengan menjual agama, memakai pakaian bulu domba, lidah mereka lebih manis dari madu (gula) sedang hati mereka bagaikan (hati) serigala, Allah akan berfirman kepada mereka : Apakah terhadapKu mereka bermain-main dan melawan, dengan kebesaranKu Aku bersumpah akan menurunkan fitnah kepada mereka sebagai ujian (bala') sehingga seorang yang berakal tenang akan menjadi bingung.
Waki' meriwayatkan dari Sufyan dari Habib dari Abi Salih berkata : Seorang datang kepada Nabi SAW dan berkata : Ya Rasulullah, saya berbuat suatu amal yang saya sembunyikan kemudian diketahui orang, maka saya merasa senang, apakah masih mendapat pahala? Jawab Nabi SAW : Ya.
Laka fiihi ajrus sirri wa ajrul 'alaniyyah
ya, bagimu pahala rahasia dan terang.
Abul-Laits berkata : Diketahui orang sehingga ditiru, maka ia mendapat pahala karena beramal dan mendapat pahala karena ditiru orang.
Sebagaimana sabda Nabi SAW :
Siapa yang memberi contoh kebaikan, maka ia mendapat pahala dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari kiamat, dan barangsiapa yang memberi contoh kejahatan, maka ia mendapat dosa dan (menanggung) dosa orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari kiamat.
Abdullah bin Almubarak meriwayatkan dari Abu Bakar bin Maryam dari Dhomiroh dari Abi Habib berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Adakalanya para Malaikat membawa amal seorang hamba dan mereka anggap banyak dan mereka menyanjungnya sehingga sampai ke hadirat Allah, maka Allah berfirman kepada mereka : Kamu hanya mencatat amal hambaku, sedang Aku mengawasi isi dan niat hatinya, hambaku ini tidak ikhlas kepadaKu dalam amalnya, maka catatlah dalam sijjin, dan ada kalanya membawa naik amal hamba lalu mereka anggap sedikit dan kecil sehingga sampai ke hadirat Allah, maka Allah berfirman kepada para Malaikat : Kamu mencatat perbuatan hambaKu dan Aku mengawasi isi hati dan niatnya, orang ini benar-benar ikhlas dalam amal perbuatannya kepadaKu, catatlah amalnya dalam 'illiyin.
Dengan ini, nyatalah bahwa amal yang sedikit yang disertai rasa ikhlas, lebih baik daripada amal yang banyak yang tidak disertai ikhlas, sebab amal yang diterima Allah, dilipat gandakan pahalanya. Adapun yang tidak disertai ikhlas, maka tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya dalam neraka jahannam.
Abul-Laits berkata : Telah mengisahkan kepada saya beberapa Ulama' dengan sanad mereka secara langsung dari Uqbah bin Muslim dari Samir Al-ashbahi berkata : Bahwa ketika memasuki kota Madinah, ia melihat seorang yang sedang dikerumuni orang banyak, lalu saya bertanya : Siapakah orang itu? Jawab orang-orang : Itu Abu Hurairah r.a. Maka saya mendekat kepadanya, dan ketika mereka bubar dan suasana telah sepi, saya bertanya kepadanya : Saya tuntut engkau demi Allah, ceritakan kepadaku hadits yang telah engkau dengar dan engkau ingat langsung dari Rasulullah SAW. Abu Hurairah r.a. berkata : Duduklah, akan saya ceritakan kepadamu hadist yang saya dengar langsung dari Rasulullah SAW yang pada saat itu tidak ada orang lain bersama kami, ia kemudian menarik nafas berat lalu tak sadarkan diri, kemudian setelah sadar dan mengusap wajahnya, ia berkata : Akan saya ceritakan kepadamu Hadits Rasulullah SAW, kemudian ia menarik nafas berat dan (untuk ketiga kalinya) kembali tak sadarkan diri dalam waktu yang agak lama, saat kembali sadar dan mengucap wajahnya, ia lalu berkata : Rasulullah SAW telah bersabda :
Ketika hari kiamat tiba, Allah akan menghukum di antara semua makhluk dan semua umat bertekuk lutut. Pertama kali yang dipanggil ialah orang yang mengerti Al-quran, dan orang yang mati fisabilillah, dan orang kaya. Maka Allah bertanya kepada orang yang pandai Al-quran : Tidakkah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusanKu? Jawab orang itu : Benar ya Tuhanku. Lalu apa yang engkau perbuat terhadap semua yang telah kau ketahui itu? Jawabnya : Saya telah mempelajarinya di waktu malam dan mengerjakannya di waktu siang. Firman Allah : Engkau berdusta, malaikat juga berkata : engkau berdusta, sebaliknya kau hanya ingin disebut qari' ahli dalam Al-quran, dan sudah disebut yang demikian itu. Lalu dipanggil orang yang kaya dan ditanya : Apa yang telah engkau perbuat terhadap semua harta yang Aku berikan kepadamu? Jawabnya : Saya telah gunakan untuk membantu famili dan kerabat, serta bersedekah. Allah menjawab : Engaku berdusta. Para malaikat juga berkata : Engkau berdusta, kau berbuat itu hanya karena ingin disebut dermawan (loman), dan sudah terkenal demikian itu. Lalu dihadapkannya orang yang mati karena berjihad fisabilillah ditanya : Kenapa kau terbunuh? Jawabnya : Saya telah berperang untuk menegakkan agamaMu sehingga terbunuh. Allah berfirman : Engkau berdusta, dan malaikat juga berkata : Engkau berdusta, kau hanya ingin disebut pahlawan yang gagah berani dan sudah disebut demikian.
Kemudian Nabi SAW menepuk pahaku sambil bersabda : Hai Abu Hurairah r.a. ketiga orang itulah yang pertama-tama dibakar ke dalam api neraka pada hari kiamat. Kemudian berita itu sampai kepada Mu'awiyah, maka ia menangis dan berkata : Benarlah sabda Allah dan Rasulullah SAW, kemudian ia membaca ayat 15-16 surat Hud.
Man kana yuridul hayataddunya Wa zinataha nuwaffi ilaihim a'maalahum fiha wahum fiha la yubkhosun. (15). Ulaaikal ladzina laisa lahum fil aakhiroti illannar wa habitha maa shona'u fiha wa baathilun maa kaanuu ya'malun (16).
siapa yang niat amalnya hanya berorientasikan dunia dan keindahannya semata-mata, maka Kami akan memberi kepada mereka semua amalnya, dan mereka di dunia tidak akan dikurangi (dirugikan). (15). Mereka itulah yang tidak mendapat di akhirat kecuali api neraka, dan gugur semua amal mereka itu, bahkan semua perbuatan mereka adalah palsu. (16).
Sebab tidak ikhlas kepada Allah, maka semua amal itu tidak berguna.
Abdullah bin Hanif Al-Inthoki berkata : Pada hari kiamat nanti, bila seseorang mengharap (balasan) amalnya kepada Allah, maka dijawab : Tidakkah Kami telah membayar kontan pahalamu, tidakkah Kami telah memberi tempat padamu dalam tiap majlis, tidakkah kau telah terangkat sebagai pimpinan/ketua, tidakkah telah Kami murah (mudah)kan bagimu jual belimu (yakni sering mendapat potongan harga jika membeli sesuatu) dan seterusnya.
Seseorang yang bijak berkata : Orang yang ikhlas ialah orang yang menyembunyikan perbuatan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejahatannya.
Pendapat yang lain : Puncak ikhlas itu ialah tidak ingin pujian orang.
Dzinnun Almishri ketika ditanya : Kapankah seseorang dapat diketahui bahwa ia termasuk pilihan Allah? Jawabnya : Jika telah menanggalkan istirahat, dan dapat memberikan apa yang ada, dan tidak menginginkan kedudukan, dan tidak mengharapkan pujian atau cacian orang, (yakni bila dipuji tidak merasa besar kepala dan ketika dicela tidak merasa kecil).
Ady bin Hatim aththa'i berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Pada hari kiamat kelak. beberapa orang yang diperintahkan untuk dibawa berkeliling surga dan setelah melihat segala keindahannya serta merasakan aroma harumnya, maka diperintahkan untuk dijauhkan darinya karena mereka tidak ada bagian di dalamnya, maka kembali mereka dengan penjelasan yang tidak ada bandingannya, sehingga mereka berkata : Ya Tuhan andaikan Kau masukkan kami ke dalam neraka sebelum Kau perlihatkan kepada kami pahala yang Kau sediakan bagi para waliMu. Jawab Allah : Sengaja Aku berbuat itu kepada kamu, kamu dahulu bila dalam keadaan sendirian melakukan dosa-dosa besar, dan bila di hadapan orang banyak berlagak alim, sopan dan taat, kamu hanya riya', memperlihatkan kebaikan kepada manusia dan tidak taku kepadaKu, kamu mengagungkan manusia dan tidak mengagungkan Aku, maka kini Aku membuatmu merasakan kepedihan siksaKu, disamping Aku haramkan atas kamu kebesaran pahalaKu.
Abdullah bin Abbas r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Ketika Allah telah melengkapi surga (jannatu) Aden dengan segala keindahan yang belum dilihat oleh mata, dan terdengar oleh telingan dan terbersit dalam hati (khayal) manusia, maka Allah menyuruhnya supaya berkata-kata. Maka surga itu berkata : Qad aflahal mu'minuun 3x. (sungguh beruntung orang yang beriman) 3x. Inni haramun ala kulli bakhil wa munafiq wa muraa'i. (Saya ini haram untuk dimasuki oleh tiap orang yang bakhil, dan orang munafik dan orang yang berbuat riya').
Ali bin Abi Thaalib r.a. berkata : Tanda orang yang riya' itu ada empat : merasa malas jika sendirian, dan tangkas jika di hadapan orang, dan menambah amalnya jika dipuji, dan mengurangi amalnya jika dicela.
Syaqiq bin Ibrahim berkata : Benteng amal itu ada tiga : Harus merasa bahwa itu adalah hidayah dan taufiq dari Allah, untuk menjauhkan rasa ujub (sombong diri), 2. Harus berniat untuk mendapat ridha Allah untuk menjinakkan hawa nafsu. 3. Harus mengharap pahala dari Allah untuk menghilangkan rasa tamak, rakus dan riya' dan dengan ketiga benteng ini, amal dapat ikhlas kepada Allah. Mengharap ridha Allah agar setiap amal yang dilakukan hanya selalu yang diridhai Allah, dan agar tidak beramal yang terdorong oleh hawa nafsu, dan apabila amal itu dilakukan karena mengharap pahala dari Allah, maka akan menjadi tidak hirau terhadap pujian atau celaan orang.
Seorang Hakim berkata : Seharusnya, manusia itu belajar adab dari seorang penggembala kambing. Ketika ditanya : Bagaimanakah? Jawabnya : Penggembala itu jika sembahyang ditengah-tengah kambingnya, sekali-kali tidak mengharap pujian dari kambing-kambingnya, demikianlah seorang yang beramal harus tidak hirau apakah dilihat orang atau tidak.
Seorang hakim berkata : Keselamatan suatu amal membutuhkan empat faktor : 1. Ilmu pengetahuan, sebab amal tanpa ilmu, lebih banyak salahnya daripada benarnya (tepatnya). 2. Niat, sebab tiap amal bergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW : Sesungguhnya semua amal tergantung pada niat, dan yang dianggap bagi tiap orang adalah apa yang ia niatkan. 3. Sabar, supaya dapa melaksanakan amal itu dengan baik dan sempurna, thuma'ninah dan tidak terburu-buru. 4. Tulus ikhlas, sebab sebuah amal tidak akan diterima tanpa ikhlas.
Haram bin Hayyam berkata : Tidak seorang pun yang mengharap kepada Allah dalam keadaan beriman sehingga Allah kasih dan sayang kepadanya.
Suhail bin Shalib dari ayahnya dari Abu Hurairah r.a. berkata :
Nabi SAW bersabda : Sesungguhnya Allah bila cinta pada seorang hamba berkata kepada Jibril : Sesungguhnya Aku kasih kepada fulan, maka kau kasih kepadanya, lalu Jibril berkata kepada semua penduduk langit : Sesungguhnya Tuhanmu kasih kepada fulan, maka kamu harus kasih kepadanya, setelah dikasihi oleh ahli langit, maka disebarkanlah rasa kasih di atas bumi, dan sebaliknya jika Allah murka (benci) pada seorang hamba, demikian juga adanya.
Syaqiq bin Ibrahim ditanya : Bagaimana dapat mengetahui bahwa saya seorang salih, sebab orang mengatakan bahwa saya seorang salih? Jawab Syaqiq : Tunjukkan rahasiamu kepada orang-orang salihin, maka bila mereka rela pada itu berarti kau seorang salih. Kedua : Tawarkan dunia ini pada hatimu, maka bila ia menolak, itu pertanda bahwa kau seorang salih. Ketiga : Tawarkan maut kepada dirimu, maka jika ia berani dan mengharap (maut), itu pertanda bahwa kau salih. Dan bila ada ketiga faktor itu dalam dirimu, maka mintalah selalu kepada Allah agar jangan sampai memasukkan riya' ke dalam semua amalmu supaya tidak rusak amalmu.
Tsabit Albunani dari Anas bin Malik r.a. berkata : Nabi SAW bersabda :
Tahukah kamu siapakah orang mukmin itu? Jawab sahabat : Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui. Sabda Nabi SAW : Seorang mukmin yaitu orang yang tidak mati sehingga Allah memenuhi pendengarannya dengan apa yang ia suka, dan andaikan seorang berbuat taat di dalam rumah yang berlapis tujuh puluh rumah dan pada tiap rumah ada pintu besi, niscaya Allah akan menampakkan amal itu sehingga dibicarakan orang dan dilebih-lebihkannya. Ditanya : Ya Rasulullah, bagaimana dilebih-lebihkan? Jawabnya : Seorang mukmin suka bila amalnya bertambah. Kemudian Nabi SAW bertanya : Tahukan kamu siapakah orang fajir (durhaka)? Jawab sahabat : Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui. Bersabda Nabi SAW : Ialah orang yang tidak mati sehingga Allah memenuhi pendengarannya dengan apa yang tidak dia sukai, dan andaikan seorang berbuat maksiat di dalam rumah yang berlapis tujuh puluh rumah dan masing-masing berpintu besi, niscaya Allah akan memperlihatkan pakaian amal itu sehingga dibicarakan orang dan ditambah-tambahi. Ketika ditanya : Bagaimana ditambah Ya Rasulullah? Jawabnya : Seorang fajir suka pada apa yang menambah durhakanya.
Auf bin Abdullah berkata : Orang-orang Ahlil khoir (suka berbuat kebaikan) saling berpesan satu sama lain atas tiga kalimat : Siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah akan mencukupi urusan dunianya. Dan siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Dan siapa yang memperbaiki hatinya maka Allah akan memperbaiki lahirnya.
Hamid Allafat berkata : Jika Allah akan membinasakan seseorang, maka dihukum dengan tiga macam : 1. diberi ilmu tanpa amal. 2. Diberi (kesempatan) bersahabat dengan orang-orang salih tetapi tidak mengikuti jejak mereka, dan tidak beradab terhadap mereka. 3. Diberi jalan untuk berbuat taat tetapi tidak ikhlas.
Abul-Laits berkata : Itu semua karena jelek niatnya dan busuk hatinya, sebab jika baik niatnya niscaya diberi manfaat dalam ilmunya dan ikhlas dalam amalnya, dan menghargai kedudukan orang-orang salihin.
Abul-Laits berkata : Saya telah diberitahu oleh orang yang dapat dipercaya dengan sanadnya dari Jaballah Alyahshubi berkata : Ketika kami bersama Abdul Malik bin Marwan dalam sebuah peperangan, tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang selalu bangun malam, bahkan tidak tidur malam kecuali sebentar, selama itu kami belum kenal kepadanya, kemudian kami ketahui bahwa ia adalah sahabat Nabi SAW. Lalu ia mengisahkan kepada kami, bahwa ada seseorang yang bertanya :
Ya Rasulullah, dengan apakah mencapai keselamatan kelak? Jawab Nabi SAW : Jangan menipu Allah. Orang bertanya : Bagaimanakah menipu Allah? Jawabnya : Yaitu mengerjakan apa yang diperintah oleh Allah, tidak karena Allah. Dan berhati-hatilah kamu dari riya' karena itu merupakan perbuatan syirik terhadap Allah, orang yang berbuat riya' pada hari kiamat akan dipanggil di muka umum dengan empat nama : Hai Kafir, Hai orang lancung, Hai penipu, Hai orang yang rugi, hilang semua amalmu dan batal pahalamu, maka tidak ada bagian bagimu kini, dan mintalah pahalamu dari orang yang kamu berbuat untuk mereka wahai penipu. Saya bertanya kepadanya : Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, apakah benar kau mendengar langsung hadits ini dari Rasulullah SAW? Jawabnya : Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, sungguh saya telah mendengar sendiri dari Rasulullah SAW. kecuali jika saya keliru sedikit yang tidak saya sengaja, kemudian ia membaca ayat :
Innal munaafiqiina yukhadi'unallah wa huwa khaadi'uhum
Sesungguhnya orang munafiq itu akan menipu Allah padahal Allah telah membalas tipu daya mereka.
Abul-Laits berkata : Siapa yang ingin mendapat pahala amalnya di akhirat, maka harus beramal dengan ikhlas karena Allah tanpa riya, kemudian melupakan amal itu supaya tidak dirusak oleh rasa ujub (bangga diri), sebab memang menjaga ketaatan itu lebih berat daripada mengerjakannya.
Abu Bakar Alwaasithi berkata : Menjaga kebaikan itu lebih berat daripada mengerjakannya, sebab ia bagaikan kaca yang mudah pecah dan tidak dapat ditambal atau dipatri, maka tiap amal yang dihinggapi riya' akan rusak, dan tiap amal yang dihinggapi ujub (bangga diri) akan rusak. Apabila seseorang dapat menghilangkan rasa riya' dalam amalnya, maka harus berbuat yang demikian itu, tetapi bila tidak dapat menghilangkan, maka jangan sampai tidak beramal karena belum dapat menghilangkan riya', sebaliknya ia harus tetap beramal kemudian membaca istighfar atas riya'nya itu, kemudian di lain hari Allah memberinya taufiq untuk menumbuhkan ikhlas dalam amal-amal yang lain.
Dalam peribahasa ada disebut : Dunia kosong rusak sejak matinya orang-orang yang riya' sebab mereka yang giat membangun dan menghias masjid, sekolah dan pesantren, pondok-pondok dan lain-lainnya demi kepentingan umum meskipun perbuatan itu berdasarkan riya' tetapi kemungkinan ia mendapat doa-doa orang muslim yang ikhlas maka menjadi berguna baginya, sebagaimana ada kisah : Seorang membangun pondok pesantren, lalu ia berkata dalam hatinya : Saya tidak mengetahui apakah amalku ini karena Allah atau tidak?Tiba-tiba ia diberitahu dalam tidurnya : Jika amalmu bukan karena Allah, maka doa-doa orang muslimin (yang terkandung di dalamnya adalah karena Allah, maka gembiralah ia dengan mimpi itu.
Ada seorang yang berdoa di dekat Hudzaifah bin Alyamani : Ya Allah binasakanlah orang-orang yang munafik. Maka Hudzaifah berkata : Andaikan mereka semua binasa, kamu tidak dapat membalas dan memukul musuh-musuhmu, sebab mereka itu ikut berjuang membunuh musuh islam.
Salman Alfarisi r.a. berkata : Allah menambah kekuatan orang mukmin dengan bantuan orang-orang munafik, dan menolong orang munafik dengan doa orang mukmin.
Abul-Laits berkata : Orang-orang berpendapat bahwa amalan fardhu itu tidak dapat dimasuki riya', sebab melakukan kewajiban, padahal sebenarnya dapat saja riya' itu masuk ke dalamnya.
Abul-Laits berkata : Di sini ada dua macam : Jika seseorang melakukan amalan fardhu itu semata-mata karena riya' sehingga jika bukan karena riya', ia tidak akan melakukannya, maka itu berarti munafik seratus persen, dan termasuk ke dalam golongan :
Innal munaafiqiina fiddarkil asfali minannaar.
Orang-orang munafik itu berada dalam peringkat terbawah dalam api neraka. Sebab jika ia benar-benar dalam keadaan tauhid, tentu ia akan selalu melakukan amalan fardhu yang dirasa sebagai kewajiban atas dirinya. Ia melakukan kewajiban hanya jika berada di depan orang banyak, sehingga ia melakukannya dengan lebih baik dan sempurna sedangkan jika dalam keadaan sendiri, ia melakukannya dengan agak sembrono, maka ia mendapat pahala yang kurang dari semestinya, sesuai dengan kelakuannya yang kurang, sedang kelebihan yang dilakukan di depan banyak orang, maka itu tidak ada pahalanya bahkan akan dituntut atasnya.
WALLAHU A'LAM
(Diambil dari kitab Tanbiihul Ghofilin)
mantab om isinya.
BalasHapustp kritig bacanya.
break dlu lach.
bersambung bacanya.
2-3 kali baca ;)
makasih mbak KDN....
BalasHapusaku sek blajar lek gae Read More ki piye yo ?