Sesungguhnya aku tidak benar-benar mengerti segala sesuatu yang aku tuliskan ini, sehingga juga tidak pernah berniat atau apalagi memiliki kebenaran untuk menuliskannya.
Akan tetapi, kenapa toh aku menuliskannya? Bukan karena Mas Fajar Suharno mendesak aku untuk menuliskannya sesudah kami mengobrol tentangnya. Sama sekali bukan itu. Tetapi aku pelan-pelan curiga bahwa situasi di mana akhirnya aku menuliskan ini-sepertinya justru untuk menjelaskan sebagian dari apa yang aku sesungguhnya tidak mengerti.
Ruwet ya?
Memang itulah yang berusaha aku tulis. Keruwetan yang sedang Anda hadapi adalah keadaan di mana seseorang menuliskan sesuatu yang ia tidak benar-benar memahaminya.
Itulah memang zaman yang sedang Anda hadapi; semua orang berkata dan tidak mengerti apa yang sesungguhnya mereka katakan. Semua orang melangkahkan kaki ke arah yang sesungguhnya tidak mereka ketahui. Semua orang mengambil keputusan dan mereka sebenarnya tidak memiliki penguasaan yang cukup memadai tentang keputusan itu. Semua orang merasa sedang menempuh perjalanan ke masa depan, menelusuri harapan-harapan akan kemajuan, tetapi coba tanyakan kepada mereka apa sesungguhnya yang mereka maksudkan dengan harapan dan kemajuan itu - insyaallah Anda akan kecewa, meskipun pada akhirnya pasti Anda tertawa.
Jangan menyangka aku sedang menganjurkan Anda agar mentertawakan mereka. Yang aku maksud adalah mentertawakan diri aku dan diri anda sendiri.
Kalimat diucapkan, kaki dilangkahkan, keputusan diambil, perjalanan ditempuh.... hmmm... Gusti Gung Binathoro.
Kalimat itu bukan sekedar deretan huruf dan kata. Ia tampil di depan kita semua sebagai pidato politik, karya sastra, pasal undang-undang, surat keputusan, tesis pembelajaran, dakwah agama, kurikulum pendidikan, setiap yang muncrat dari mulut kita kepada putra-putri kita.... yang tak kita ketahui sama sekali bahwa itu semua adalah upaya-upaya untuk menghancurkan sejarah, zaman, masa depan.
Kaki dilangkahkan. Itu bukan hanya mbok-mbok dari pelosok dusun pergi ke pasar Beringhardjo. Bukan sekedar pemain sepak bola mengayun-ayun. Bukan sekedar barisan tentara berderap-derap. Melangkahkan kaki adalah bagaimana Presiden, Wakilnya beserta seluruh tim pemerintahannya sedang menyerap kekayaan alam dan manusia bangsanya untuk membiayai masa depan yang tidak mereka pahami barang sedikit pun. Langkah mereka adalah klise-klise, jargon-jargon, lagu-lagu pop yang mereka sangka ideologi, guratan-guratan kwas kuno yang mereka kira akan menjadi lukisan demokrasi dan keadilan sosial. Bahkan daftar-daftar instruksi, pasal-pasal tipu daya dan klausul-klausul pembodohan yang tiba ke telinga mereka melalui pertemuan-pertemuan internasional yang mereka pikir membuat mereka jadi orang besar yang bergengsi, penuh martabat, yang membuat mereka menggoreskan tinta emas di buku sejarah.
Perjalanan sedang ditempuh menuju kehancuran, dan puncak kehancuran itu tak lain adalah ketidak-mengertian para pelakunya bahwa itu kehancuran. Tingkat kedua kehancuran itu adalah para pemimpin perjalanan itu, dari berbagai sektor, sangat percaya bahwa apa yang sedang mereka lakukan adalah sesuatu yang membanggakan. Sehingga tidak ada guratan rasa malu yang pernah terpancar dari urat-urat wajah mereka. Sehingga selalu dengan mantap mereka berpidato, melambaikan tangan, pergi ke sana ke mari dikawal oleh protokol, yang keseluruhan biaya aktivis mereka ditanggung oleh dalamnya penderitaan rakyatnya.
Bangsa dan pemerintahan dengan rekor segala rekor dunia. Rekor amat banyaknya bencana alam yang bagai tak akan pernah usai. Rekor ragam dan frekuensi kriminalitas yang tak tertandingi oleh pemerintahan dan bangsa mana pun yang pernah ada dalam kehidupan di jagad raya. Rekor jumlah orang demo, marah, menyerbu, tawur, bahkan rekor kebodohan yang terus menerus dan terus menerus.
Harapan kita tinggal pertolongan Tuhan dalam jangka waktu 3 sampai 5 tahun ke depan. Terserah ia akan menolong bangsa ini dengan memuncakkan bencana alam, mentotalkan pembusukan, kemudian berlangsung total recovery - atau ia akan memancarkan kasih sayangnya yang aneh dengan membimbing bangsa ini menuju secercah pengetahuan untuk sanggup memilih pemimpin yang sewajarnya menjadi pemimpin.
Alam semesta sedang berputar dalam tatanan dan irama yang menyorong struktur benda-benda arasy menuju desain kosmologis sedemikian rupa. Dan bangsa indonesia adalah bangsa yang paling lemah kuda-kudanya untuk mampu bertahan tidak terjatuh, terjerembab atau terjengkang oleh goyangan destrukturisasi benda-benda alam itu.
Terjadi perubahan-perubahan sangat menyolok pada alam frekuensi, gelombang-gelombang, komposisi dan aransemen fisikawi dan kimiawi. Perjumpaannya dengan ketidak-siapan manusia atau suatu masyarakat mewujud menjadi tampilnya sekian banyak penyakit baru, tingkat kerawanan fisik manusia, atau virus dan bakteri yang membunuh siapa saja yang tidak siap, namun menjadi penguat kesehatan bagi lainnya yang punya kuda-kuda dan kewaspadaan kesehatan.
Di luar akibat-akibat fisiologis, yang lebih parah adalah menyebarnya epidemi penyakit kejiwaan yang bernama "junun". Setiap orang potensial dihinggapi semacam kegilaan pada kadar tertentu yang berbeda-beda berdasarkan posisi naturalnya, geografisnya maupun tingkat resistensi mentalnya. Junun tidak hanya memberi dorongan dan atmosfir kepada orang perorang, dan ini bisa menjadi sumber kriminalitas yang aneh dan spesifik. Junun juga melingkupkan atmosfir kepada sekelompok orang atau sebagian masyarakat, bahkan pada kadar tertentu mempengaruhi semua masyarakat.
Saya tidak tega menuliskan contoh-contoh. Hanya saja, maksimalkan penggunaan akal Anda, logika Anda, aktifitas intelektual dan rasional Anda: bacalah koran, tontonlah teve, tengok kiri kana, serap dan olahlah dengan wacana tentang "junun".
Pihak yang terkena junun itu disebut "Majnun".
Seratus persen Anda boleh menyebut kata-kata itu dan memaksudkan Emha Ainun Nadjib atau Emha Junun Nadjib. Memang itulah yang sedang aku tulis.
Diambil dari Buku EMHA AINUN NADJIB "Demokrasi La Roiba Fih"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar