Minggu, 03 April 2011

Cerpen Kriminal : TENGKORAK DI TEMPAT SAMPAH

         Dari balik kaca kabinnya, operator derek sampah mengamati sebuah benda bundar yang terciduk oleh serok derek. Benda itu memiliki sederet gigi dan dua lubang yang seakan-akan memandang kosong kepadanya. Operator menghentikan derek dan melompat keluar kabin. Tidak lama kemudian, perusahaan Pembakaran Sampah Tamagawa menelepon Kantor Polisi Ikegami.

        Detektif Miyawaki dan Ban memastikan tengkorak itu bukan mainan atau model. Benda itu muncul dari kantung kertas coklat yang dimasukkan ke kantong plastik. Bagian bawah kantung sudah bolong. Tampaknya benda itu pernah terkubur. Masih ada tanah yang lumayan kering menempel di situ. Di dinding rongga tengkorak masih ada sedikit jaringan lunak. Para detektif memperkirakan tengkorak ini korban tindak kriminal.

Ahli Tengkorak
       Di Kawasan perumahan eksklusif di Denenchofu, tinggal Goro Koike. Ia Staf tidak tetap pada institut Riset Sains Kepolisian yang bertugas di Departemen Penyidikan Ilmiah dan Kedokteran Forensik di Institut itu. Pria tinggi besar yang matanya memancarkan kecerdasan dan akal sehat itu hidup sendirian. Ke rumah itulah Detektif Mayawaki datang meembawa tengkorak yang ditemukan di tempat sampah untuk minta tolong diidentifikasi.
       Sejak lima tahun sebelumnya, Koike mengembangkan metode yang disebut "metode restorasi wajah", untuk membantu menemukan identitas pemilik tengkorak. Koike membawa tengkorak ke laboratoriumnya yang kecil, yang terletak di bawah tanah dan dilengkapi pengatur suhu ruangan. Dipasangnya tengkorak itu pada sebuah tonggak pendek, lalu dipandanginya dengan seksama.
       Ia tiba pada kesimpulan bahwa korban kemungkinan besar berwajah ceper dan berkelamin wanita. Ia ditaksir berumur 22 tahun saat meninggal. Karena masih ada sedikit selaput otak keras dan sedikit otak, diduga tengkorak ini pernah dikuburkan di tanah yang relatif kering kira-kira empat sampai lima bulan lamanya.
      Berdasarkan pengamatan ini ia mulai menempelkan tanah liat ke permukaan tengkorak. Karena tengkorak itu boleh dikatakan utuh, ia yakin bisa menghasilkan gambaran yang mendekati kebenaran. Yang jelas wajah persegi tidak akan menjadi bulat dan wajah yang panjang tidak akan menjadi pendek.
Ketika pekerjaan Koike sudah kira-kira 70% selesai, ia menemui jalan buntu. Ia merasa keliru sekali mencoba menerapkan aturan-aturan pada wajah manusia. Seperti halnya sidik jari, setiap wajah mempunyai ciri-ciri sendiri. Kepribadian yang sedikit berbeda saja akan membuat saudara kandung tampak sangat berbeda.
      Koran-koran memberi tempat istimewa bagi kasus ini. Menurut polisi, mereka berpaling pada ilmu pengetahuan dan mengandalkan Dr. Goro Koike. Koike merasa, tidak lama lagi pasti Institut Riset Sains Kepolisian akan memburu-buru dia agar menyelesaikan tugasnya.
      Betul saja. Muncullah seorang wanita muda yang menyerahkan secarik kartu nama bertuliskan : Yoshie Sudo, Asisten Riset, Departemen Kedokteran Forensik, Institut Riset Sains Kepolisian.
      Wanita itu tidak bisa dikatakan cantik sekali, tetapi kulitnya putih seperti susu dan matanya yang indah berkilat di bawah kelopak yang diberi perona. Wajahnya yang agak ceper memberi kesan seksi, karena mengingatkan pada wanita yang sedang telentang. Giginya yang agak tonggos membuat bibirnya agak monyong, seperti siap untuk dicium. Lengannya yang muncul dari pullover biru tua berlengan pendek, juga putih mulus. Payudaranya penuh dan tampaknya tidak diganjal. Hidungnya sedikit berbintik-bintik. Koike, bujangan berumur 30-an, bukan pria hidung belang. Namun, ia merasa wanita itu menarik sekali.
      "Saya ditugaskan untuk mendesak Anda cepat-cepat menyelesaikan restorasi tengkorak itu. Selain itu saya juga diharapkan datang setiap hari untuk belajar dasar-dasar metode restorasi," kata Yoshie.
       Yoshie Sudo diajak berkeliling laboratorium. Ia tidak kelihatan terkejut melihat sejumlah tengkorak dideretkan di rak. Koike menjelaskan tengkorak-tengkorak itu penah ditempeli tanah liat, tetapi ketika tetap tidak bisa diidentifikasi, tanah liatnya dibuang.
       Maka pelajaran pertama pun dimulai. Karena tidak ada buku teks, bahan-bahannya adalah yang keluar dari mulut Koike. Sambil berbicara, kadang-kadang Koike memandang wajah Yoshie yang tekun mencatat. Setelah hari gelap, Yoshie pamit. Koike tidak mengantarnya.

Pelayan Bar
       Keesokan harinya Yoshie tiba menjelang sore. Koike menguliahkan struktur umum tengkorak dan standar untuk menentukan jenis kelamin dan umur. Beberapa kali Koike merasa pusing. Bukan karena sakit, tetapi karena wewangian yang dipakai Yoshie. Wewangian itu rasanya tidak cocok buat anggota staf institut, lebih cocok untuk gadis pelayang bar.
      "Dr. Koike, apakah Anda bisa menjelaskan metode perimposisi?" tanya Yoshie ketika pelajaran hari itu hampir berakhir. Koike menjelaskannya : tengkorak difoto lalu foto-foto orang yang hilang, yang memiliki jenis kelamin sama dan umur sebaya, ditempelkan diatasnya. Dalam beberapa kasus, foto-foto itu cocok dan identifikasi bisa dilakukan.Namun, kecocokan itu jarang terjadi.
      "Boleh saya meminta Anda melakukan eksperimen untuk menempelkan foto saya di tengkorak terbaru ini?"
       Koike nmemotret wajah Yoshie dari depan dan juga memotret tengkorak. "Kapan Anda akan mencucinya dan menempelkannya?" tanya Yoshie sambil mendekatkan tubuhnya.
       Koike meletakkan tangannya di pundak wanita itu dan berkata. "Segera. Tapi kenapa sich kamu  memakai parfum seperti ini? Apakah orang-orang di institut tidak pernah keberatan?"
       "Boleh saya berterus terang?" kata Yoshie sambil melemparkan lirikan menggoda. "Saya cuma memakainya kalau ke sini."
       Walaupun Koike mengira Yoshie cuma sekedar bercanda, ia merasa tersanjung juga. Yoshie berbicara lagi, dengan suara perlahan. "Saya mempunyai rahasia lain. Kalau Anda mau mengantar saya ke stasiun, akan saya ceritakan di jalan.
       Mereka memotong jalan melewati Taman Tamagawa ke tepi sungai. Matahari sudah turun dan angin dingin bertiup. Mereka tiba di tepi sungai dan duduk di rumput.
       "Setiap malam saya bekerja di bar, sementara siang hari saya bertugas di Institut Sains Kepolisian. Saya ini sejenis 'dr. Jekyill dan Mr. Hyde' perempuan. Anda kecewa mendengarnya?"
       "Tidak apa-apa menjadi pelayan bar. Tapi kamu kan masih muda? Mestinya kamu mempunyai alasan keuangan yang serius sampai merangkap pekerjaan seperti itu."
       "Terserah pikiran Anda. Tapi mungkin Anda bisa datang ke bar saya dan melihat betapa saya bisa menjadi pramuria yang menarik. Saya menikmatinya."
        Yoshie menyerahkan sebuah korek api yang bertuliskan nama sebuah bar. "Tapi," katanya, "Anda baru boleh datang sekali-kali ke bar kalau kursus sudah selesai. Janji?"

Tidak ada yang bernama Yoshie
       Hari ketiga, pembicaraan mengenai metode restorasi tiba pada tengkorak yang sedang dikerjakan Koike. Sesudah menjelaskan semuanya, Koike menceritakan perihal kebuntuan yang dihadapinya. Yoshie duduk berpikir sambil mengetuk-ngetuk giginya dengan pensil. Lalu katanya, "Dr. Koike, Anda sudah melakukan superimposisi dengan foto saya pada tengkorak ini?"
      "Belum. Fotonya belum jadi."
      "Wanita ini kelihatannya mirip saya. Kenapa tidak mempergunakan saya sebagai model? Rabalah pipi saya. Lihat gigi saya."
       Yoshie menggamit tangan Koike untuk ditempekan ke wajahnya. Koike meraba pipi, dahi,  rahang Yoshie. Aneh, sangat mirip tengkorak itu. Memang cuma kebetulan. Namun begitu mirip, termasuk giginya yang agak tonggos. Mengherankan.
       "Betul., ada persamaannya," katanya.
       "Secara umum, wanita ini mestinya memiliki bentuk wajah yang sama dengan saya. Kenapa tidak membuat saya sebagai contoh untuk merampungkan restorasi?"
       "Baik, saranmu ada benarnya."
        Saat mengelus wajah Yoshie, tiba-tiba Koike tidak bisa menahan dirinya. Ia memeluk wanita itu erat-erat dan Yoshie membalasnya.
        Keesokan harinya Yoshie tidak datang. Begitu pula keesokan harinya lagi. Selama tiga hari Koike berdiam diri, menunggu. Mungkin ia malu, pikir Koike. Koike sendiri malu menelepon ke Institut Sains Kepolisian untuk berbicara dengan Yoshie. Namun pada hari keempat, ia menelepon.
       Yuzo Kawamata, teman lamanya di Departemen Forensik terheran-heran. Tidak ada orang bernama Yoshie Sudo di Institut. Mereka juga tidak pernah mengirim anggota staf untuk belajar pada Koike. Kawamata adalah Kepala Departemen. Tidak mungkin ia bercanda. Jadi, siapa Yoshie?
       Koike lantas teringat pada kotak korek api yang diberikan Yoshie. Di kotak itu ada gambar koktail Manhattan dan tulisan Bar Floydie beralamat di 1-3-5, Kamata. Koike lantas berkerata api ke Kamata.
       "Oh, ini ya yang mencari Yoshie?" tanya wanita gendut berumur 50-an itu sambil memandang Koike dengan seksama dan menggoda. "mau apa?"
       "Saya pernah bertemu dia untuk urusan pekerjaan. Dia minta saya singgah kalau ada waktu luang."
       "Dia sudah tidak di sini. Dia pergi begitu saja. Sudah lama. Kira-kira April. Empat bulan yang lalu." Tanggal 20 April saat hujan turun, seorang pria yang masih muda, yang pernah datang ke bar itu sekali, duduk minum-minum dengan Yoshie. Pemuda itu menghabiskan dua botol bir dan tiga gelas highballs.
        Ketika akan pergi, ia berkata dompetnya ketinggalan di kantor. Mamma-san meminta si pemuda meninggalkan barang jaminan. Ternyata arloji pun ia tidak punya.
        Pria itu mengenakan sweater, celana panjang, dan baret. Ketika ditanyakan di mana kantornya, katanya di Kamata. Mamma-san mengusulkan agar mereka berdua ke sana mengambil uang, Tetapi, kata pemuda itu, kantornya sudah tutup. Ia meminta Yoshie menemaninya mengambil uang ke apartemennya. Ternyata keduanya tidak pernah kembali.
        Koike membayar tanpa menyentuh birnya.

Diilhami Mimpi
       Di kereta api, Koike duduk berpikir sambil memejamkan matanya. Ketika tiba di rumah, ia segera mengerjakan tengkorak berdasarkan foto Yoshie. Setelah itu ia mengunci pintu laboratorium. Selama dua hari ia berbaring saja, tidak mau makan, tidak mau keluar rumah.
       Pada hari ketiga, teleponnya berdering-dering sehingga ia terpaksa mengangkatnya. Ternyata dari Institut Sains Kepolisian, menanyakan apakah tengkorak sudah selesai dikerjakan. Koike berjanji hari itu juga tengkorak selesai didandani.
      Telepon itu memacu semangat Koike. Ia teringat betapa Yoshie mendesaknya untuk mempergunakan wajahnya sebagai contoh. Rupanya itulah alasannya ia muncul dalam wujud manusia di rumahnya.
      Di laboratorium, dengan mempergunakan daya ingat dan foto, ia sudah merekonstruksi wajah tengkorak itu, yang lalu diberinya lapisan penghalus dan cat. Hasilnya mendekati wajah seorang wanita yang masih hidup.
      Ketika Detektif Miyawaki tiba, Koike cuma berkata bahwa wajah wanita itu kelihatannya seperti seorang wanita yang bekerja di bar-bar. Ia menyarankan agar Miyawaki menanyai bar-bar di Ota Ward, kalau-kalu ada wanita yang menghilang empat lima bulan terakhir. Kalau wanita itu bisa diidentifikasi, maka pria yang terakhir kelihatan bersamanya kemungkinan besar adalah pembunuhnya.
     Seminggu kemudian, Detektif Miyawaki mendatangi Koike. Dengan menggebu-gebu ia memberi tahu bahwa Koike benar. Kasus itu sudah terpecahkan. Katanya, polisi tadinya tidak begitu percaya pada saran Koike, tetapi melaksanakannya juga. Dari kantor polisi di Kamata, diketahui Bar Floydie pernah melaporkan lenyapnya seorang pramuria muda. Waktu itu polisi tidak terlalu serius menanggapinya, sebab mereka pikir wanita itu cuma melarikan diri supaya tidak usah membayar utang.
     Ketika detektif membawa kepala hasil rekonstruksi Koike ke Bar Floydie, Mamma-san kaget. Ia segera mengenali wajah itu sebagai Yoshie. Polisi Ikegami dan Kamata lantas mencari pria muda yang gambarannya diberikan oleh Mamma-san. Tidak lama kemudian mereka menemukannya.
     Ketika diperiksa, pria itu mengaku. Katanya, Yoshie mabuk dan memaksa dia membayar. Karena kesal mereka turun dari kereta di Ondakesan. Ia memaksa Yoshie ikut ke tempat gelap dan mencekiknya di sana. Mayat Yoshie diseretnya ke belakang sebuah kuil. Di sana ia memperkosa mayat yang masih hangat itu sebelum membuangnya ke lubang tempat sampah.
     Ketika menyadari ia bisa dilacak lewat mayat itu, pria yang bernama Akira itu memotong kepala  mayat dengan hati-hati, agar ia tidak terkena darah. Di tempat sampah itu ia menemukan kantung kertas dan kantung plastik yang dipakainya membungkus kepala Yoshie.
     Mayat itu ditelanjanginya. Pakaian dan kepala mayat dia kuburkan di tempat terpisah, sedangkan tubuh mayat dibenamkan ke dalam lumpur. Kepala mayat dikuburkan dekat tempat pengumpulan sampah rupanya digali oleh anjing-anjing.
     Polisi mengunjungi tempat pembuangan tubuh Yoshie, dan ternyata menemukan kerangka wanita malang itu.
     "Restorasi wajah yang Anda lakukan sungguh hebat. Dari mana sih Anda mendapat ilhamnya?" tanya Detektif Miyawaki.
    "Saya sebenarnya malu untuk mengakui bahwa saya diilhami mimpi. Tiga hari berturut-turut saya bermimpi melihat wajah itu."
     "Luar biasa. Ya, banyak yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Sekarang kasusnya sudah selesai."
     Namun, bagi Koike kasus ini belum selesai. Walaupun ia sering mendengar perihal roh yang menuntut keadilan, namun ia yakin, yang pernah dipeluknya dan bercinta dengannya bukan roh, tetapi manusia yang memiliki daging. Buat apa wanita itu mengambil jalan berputar-putar untuk memberi tahu identitas tengkorak?
     Kunci satu-satunya yang mempertautkan wanita itu dengan Yoshie Sudo adalah kemiripannya. Apakah mereka saudara kembar? Kakak beradik? Namun, dari Miyawaki ia tahu kalau Yoshie itu sebatang kara seperti Koike sendiri.

Seorang Gadis
     Koran-koran banyak memuat tentang kasus pembunuhan ini. Selain pemecahannya dilakukan dengan cara yang tidak biasa, juga karena si pembunuh, Akira Sato dicurigai membunuh wanita muda lain dengan cara yang mirip. Lalu muncullah wajah Akiyo Sato, istri si pembunuh dalah salah satu majalah wanita. Walaupun ia menunduk dan mengenakan kacamata hitam, sekali lihat Koike mengenali: inilah wanita yang mendatangi dia !
     Dari hasil penyelidikannya, Koike tahu, Akiyo Sato tinggal di lantai dua sebuah apartemen murah di belakang Minemachi di Chofu, Ketika Koike tiba, pintu rumah itu terkunci rapatt. Koike memijat bel. Dari dalam kedengaran bunyi langkah kaki. Akhirnya, ada suara orang, "Siapa itu?"
    "Aku, Koike."
    Tidak ada jawaban.
    "Jangan Kawatir. Aku sudah tahu semuanya dan tidak bercerita kepada siapa pun. Kalau kamu inginkan, aku akan tutup mulut seumur hidup. Aku cuma ingin tahu, kenapa kamu datang kepadaku, bukan ke polisi."
     Akiyo akhirnya berbicara juga. Di sebuah kafe dekta stasiun Ondakesan, Akiyo Sato mulai bercerita. Wanita berusia 23 tahun itu istri Akira Sato, si pembunuh. Ia tidak mempunyai anak.
     "Saya tidak tahu apakah seorang laki-laki bisa menghayati perasaan seorang wanita yang menyadari suaminya seorang pembunuh." Akiyo menatap Koike dengan mata dingin dan tanpa emosi. "Bahkan yang tahu suaminya akan membunuh lagi dan membunuh lagi kalau tidak ditangkap. Bagaimanapun juga itu suaminya."
      Setelah hening sejenak seperti mengumpulkan semangat, ia melanjutkan, "Pembunuh yang mengerikan itu harus disingkirkan dari masyarakat secepat mungkin. Tapi yang menyerahkannya ke polisi harus orang lain, bukan istrinya. Itulah dasar pertimbangan saya.
     "Kemudian saya baca, polisi tidak bisa mengidentifikasi mayat dan meminta Anda melakukan restorasi wajah. Karena itulah saya melakukan yang Anda sudah tahu."
      Koike sadar bahwa wanita ini bukan lagi Yoshie Sudo. Ia ingin Yoshie bisa kembali.
     "Bagaimana kamu bisa tahu suamimu pembunuh?"
     "Sebenarnya memalukan, tapi ...." Lalu ia bercerita. Suaminya Akira, adalah seorang sadis, walaupun orang tidak akan menyangkanya. Ia pandai bergaul. Cuma Akiyo yang tahu, kalau sedang bercinta, Akira terdorong untuk mencekik pasangannya. Akiyo biasa berontak dan memukulnya. Kalau sudah begini, akal sehat Akira tiba-tiba kembali. Akira akan segera meminta maaf.
      Ketika berulang-ulang terjadi kejahatan berlatar belakang seks, Akiyo mulai curiga, jangan-jangan pelakunya suaminya. Ia terguncang ketika berdasarkan pengusutan yang dilakukannya diam-diam, ternyata Akira pernah dihukum pada saat masih ramaja karena memperkosa anak SD. Lalu muncul di koran-koran perihal penemuan tengkorak dekat tempat tinggal rumah mereka, tengkorak seorang wanita yang diperkirakan telah dikubur empat sampai lima bulan.
      Ia ingat suatu malam di bulan April, ketika bunga sakura sedang bermekaran, Akira berkata kepadanya, "Kamu merahasiakan sesuatu dari aku. Aku tahu sekarang kamu punya saudara perempuan, bahkan mungkin saudara kembar di sebuah bar bernama Floydie, di belakang stasiun. Namanya Yoshie. Dia bekerja di situ."
     Akiyo merasa was-was karena pembunuhan terhadap wanita yang tengkoraknya ditemukan tidak jauh dari kediaman mereka itu diperkirakan kira-kira bersamaan waktunya dengan saat suaminya bercerita tentang wanita yang mirip dirinya itu. Akiyo juga ingat, kira-kira sepuluh hari setelah suaminya bercerita tentang Yoshie, Akira pulang dengan pakaian basah kuyup karena kehujanan. Ia mabuk dan bicaranya tidak karuan. Di dapur ia mencuci tangan berulang-ulang dan memeriksa dengan seksama sweater dan celananya.
     Koike berkata, "Sekarang kamu sudah tahu, kamu istri pembunuh, Apa rencanamu sekarang?"
     "Masa depan saya sudah habis."
     "Jangan jadi orang yang kalah. Yoshie Sudo yang ku kenal bukan pengecut. Kapan kita bertemu lagi?"
      Akiyo diam saja.
     "Kalau kamu sudah memutuskan, hubungi aku. Aku menunggu. Janji?"
      Hari-hari lewat tanpa kabar. Koike tidak sabar lagi. Ia mendatangi kediaman Akiyo. Nama Sato sudah dicopot. Kata pengurus gedung, Akiyo sudah pindah. Entah ke mana. Tamat.



 (Diambil dari Majalah Intisari Edisi Maret 2000)


1 komentar: