Tujuh belas tahun sudah usiaku, ketika cinta membuka mataku dengan keindahannya dan membelai jiwaku dengan kehangatan jemarinya. Dan Selma Karami, adalah nama perempuan pertama yang kecantikannya telah membangkitkan jiwaku, membawaku ke taman asmara, yang siangnya bagaikan mimpi dan malamnya bagaikan malam pengantin. Kecantikan yang telah mengajariku tentang makna keindahan, dan menyanyikan untukku senandung kehidupan.
Cinta pertama adalah kenangan paling indah bagi setiap manusia. Masa-masa penuh keindahan, dunia baru yang serba asing, tapi penuh dengan perasaan bahagia yang memenuhi segenap relung-relung kalbu, memenuhi dunia dengan pelangi warna-warni sehingga ia akan lupa segala derita dan misteri kehidupan ini.
Dalam kehidupan setiap orang muda pasti ada Selma yang terbit di fajar musim semi kehidupannya, mengubah kesunyian hari-hari menjadi kebahagiaan dan memenuhi keheningan malam-malam dengan alunan musik penuh irama.
Aku hanyat tenggelam ke dasar relung jiwaku, sementara pikiranku mengembara terbang melintasi cakrawala terjauh dari ichavalon ketika cinta berbisik ke telingaku melihat bibir Selmaku, seperti seorang filsuf merenungi arti pergelaran alam semesta atau seorang nabi yang berusaha memahami wahyu yang baru turun kepadanya. Aku adalah Adam yang termenung menatap keindahan surga yang lengan dan sunyi, dan melihat Hawa yang muncul tiba-tiba seperti bulan mengintip dari balik bukit. Selma menjadi Hawa dari Adam jiwaku, yang menyingkapkan tabir segala rahasia dan berbagai keajaiban serta membuat aku memahami makna kehidupan.
Ketika Hawa menyebabkan Adam keluar dari Surga atas kemauannya sendiri, maka Selma telah menuntun aku masuk dengan rela ke dalam surga cinta murni. Dan apa yang terjadi pada Adam, terjadi pula padaku. Pedang membara yang mengusir Adam dari Surga adalah pedang yang mengancamku dengan ujungnya yang berkilauan, memaksaku menjauhi surga cintaku seperti larangan bagi Adam untuk mendekati pohon larangan.
Kini tahun-tahun telah berlalu, dan segala keindahan itu menjadi kenangan menyakitkan yang menghantui hari-hariku, bagaikan sayap-sayap gaib yang beterbangan di sekelilingku. Ia mengibaskan angin kesedihan ke dalam hatiku dan membuat pelupukku selalu penuh air mata. Selma yang cantik, kekasihku, kini telah tiada, dan tak ada lagi kenangan yang tersisa selain hati yang patah dan sebuah makam yang dikelilingi oleh pohon-pohon pinus. Makam itu dan hatiku, keduanya menjadi saksi tentang Selmaku.
Keheningan yang selalu menemani kuburan itu, tak pernah mampu menyingkapkan rahasia kematian yang abadi di sisi Tuhan, dan gemerisik dahan-dahan serta akar-akarnya membelai jasad yang ada dalam dingin dekapan bumi juga tak sanggup mengisahkan segala misteri liang lahat. Tapi rintihan pilu tangisan hatiku, seakan menjadi saksi lukisan kisah berbingkai cinta, keindahan, dan kematian pada orang-orang yang hidup.
Kepada para sahabat masa mudaku di seluruh Beirut, seandainya kalian melewati pemakaman dekat hutan pinus itu, masuklah dengan diam dan berjalanlah pelan-pelan sehingga langkah-langkah kakimu yang perkasa tidak mengganggu tidur orang yang mati, dan berhentilah sejenak dekat pusara Selma, sampaikan salam pada bumi yang memeluk tubuhnya, dan sebutlah namaku dengan sebuah keluh yang dalam, dan katakan pada dirimu sendiri, "Di sinilah kubur segala harapan cinta Gibran, yang hidup sebagai seorang yang terpenjara oleh cinta di seberang lautan. Di atas setumpuk tanah ini ia kehilangan kebahagiaannya, mengalirkan air matanya, dan melupakan senyumnya."
Di samping makam itu tumbuh pohon kesedihan Gibran berdampingan dengan pinus-pinus, dan di atas makam itu ruhnya melayang-layang setiap malam mengenang Selma, menyertai dahan-dahan pepohonan dalam ratapan duka cita, yang menangis meratapi kepergian Selma, yang kemarin masih menggema bagaikan nada yang indah di bibir kehidupan, namun sekarang tinggal menjadi rahasia sunyi dalam dekapan bumi.
(Diambil dari Kumpulan Puisi Kahlil Gibran "Lebanon Duka Yang Bisu")

Tidak ada komentar:
Posting Komentar